Thursday, May 29, 2008

Membuka Usaha Pelatihan Komputer

Salah satu jenis aktivitas yang mungkin tidak akan berhenti adalah bidang pendidikan. Karena manusia akan senantiasa membutuhkan ilmu. Sementara itu, sudah banyak lembaga pendidikan formal maupun non-formal yang telah berdiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Komputer termasuk salah 1 bidang yang memiliki banyak cabang ilmu yang memungkinkan untuk digali dan diajarkan.
Ada beberapa skema pilihan yang mungkin dalam usaha jenis ini:
1] Kita sebagai pemilik, pengelola dan pelaku langsung (misal sbg trainer).
2] Kita sebagai penyedia fasilitas (tempat dan perlengkapan), SDM dari luar.
3] Kita sebagai pengelola atas fasilitas milik orang lain.

Daftar kebutuhan :
tempat dan lokasi yang strategis (dekat lingkungan pendidikan: sekolah, kampus; atau perkantoran)
perangkat komputer (sesuai dengan kapasitas ruang dan modal tersedia)
peralatan mengajar : whiteboard, papan tulis, meja-kursi siswa, dll
perlengkapan administrasi : form pendaftaran, sertifikat, stempel, kwitansi, modul pelatihan, papan pengumuman, absensi siswa, dll
plang nama atau neon box nama usaha agar mudah dikenali masyarakat
[optional] mengurus perijinan bila memungkinkan, untuk aspek legalitas sertifikat dan keberadaan lembaga; namun bila usaha hanya skala privat/kecil, hal ini bisa diabaikan lebih dahulu.
bahan promosi : poster, pamflet, kartu nama, spanduk, brosur

Perkiraan biaya modal ::
4 unit PC (4 juta), networking (500 ribu), interior (fan, furniture : 600 ribu), administrasi dan promosi (750 ribu), biaya lain (150 ribu) ; total perkiraan modal = Rp 6 juta

TIPS:
- pilih jenis pelatihan yang masih sedikit lembaga sejenis yang mengadakan, hal ini akan dapat memperkecil tingkat kompetisi
- buat interior/fasilitas yang nyaman buat siswa (AC atau fan; toilet; free drink), menjaga kebersihan dan kerapihan tempat usaha
-sering mengikuti trend perkembangan dunia komputer (hardware maupun software)
-meminta feedback (input balik) dari siswa untuk perbaikan kualitas pelatihan
-senantiasa meningkatkan performance bisnis yang dijalankan

Buka Kursus Stir Mobil

Buat rekan-rekan muda (SMU, mahasiswa juga boleh). Secara faktual, kita menghadapi kondisi kehidupan yang agak sulit; biaya pendidikan, biaya kehidupan secara umum makin membebani kita dan keluarga. Bagi mereka yang berposisi "eselon"; "pejabat tinggi"; "pejabat agung"; pengusaha sukses, mungkin ndak begitu khawatir menghadapinya, uang belanja bulanan mereka lebih dari cukup!
Sekarang bagaimana dengan kita, keluarga biasa-biasa atau sederhana. Membuang waktu dengan kongkow-kongkow, main-main kesana kemari, juga ndak membantu menyelesaikan perekonomian keluarga.
Di lain sisi, sekarang ini tidak sedikit anak usia muda sudah pandai atau ingin bisa menyetir sendiri kendaraan roda empat, bahkan anak usia SMP sekalipun. Sementara, pemilik dan jumlah kendaraan roda empat terus kian bertambah. Nah, coba peluang ini kita gali. Pelajari dulu sebuah lembaga/pelatihan yang sudah ada di sekitarmu, yang memberikan kursus stir mobil, termasuk masalah administrasi, operasional dan manajemen usahanya. Sekarang coba kontak peluang mereka yang memiliki kendaraan untuk diajak kerjasama (misal tetangga, temen sekelas, se-sekolah, se-ganK, dll). Bikin proposal pengajuan pembuatan usaha stir mobil.
Untuk segmen pasar, sebagai langkah awal: coba promosikan usaha tersebut ke temen-temen sekelas sendiri, guru-guru satu sekolah, siswa sekolah SMU-SMP-kampus lain (misal, beri tarif khusus untuk pelajar&guru). Ajak juga reken-rekan sekelas/sekolah/se-gank untuk menjadi instrukturnya. Bagaimana? Hitung-hitung sambil belajar menjadi wirausahawa muda nih! :) Kalaupun usaha gagal, kayaknya cost kerugian ndak begitu besar. Asal berhati-hati saja menjaga amanah mobil punya orang itu. Semoga ide ringkas ini ada sedikit berguna!
Note : segmen khusus pelajar adalah kue market yang besar menggiurkan, coba saja hitung jumlah sekolah SMP, SMU, kampus di sekolahmu (terutama di kota-kota pulau Jawa ya). Apalagi bila kita pandai mengemas promosi&marketing usahanya!
Misal aja nih : Stir Mobil Planet Kita! Buat pelajar&guru dapat tarif khusus! Administrasi mudah, cepat, ringan, Instrukturnya ... cool! Dikelola oleh anak-anak pelajar! Ayo, belajar nyetir ... coy!

Penyewaan Lampu Petromaks

Malam hari, selain suasana kegelapan,ternyata banyak peluang buat mencari usaha. Di sana banyak bertebaran para penjual sate, penjual bakso, mie ayam, nasi bungkus, mie goreng, mie rebus, jajanan, yang keliling maupun yang standby, dll. Nah, peluang yang justru bisa kita tangkap adalah : usaha menyewakan lampu penerangan kepada mereka-mereka itu. Bisa lampu minyak, lampu petromaks, pokoknya penerangan lah. Kan mereka butuh dengan alat seperti itu. Mungkin sebagian udah pakai, tapi kan masih ada juga yg belum. Belum lagi kalo listrik mati, yang punya usaha warung2/tenda2 juga ikut gelap kan :). Nah, jadi modal usahanya ; punya lampu yang buanyak, sewakan kepada pemakai, misal sistem tarif harian. Bisa juga disewakan kepada rumah tinggal2 yang pas lagi kena gilir pemadaman, atau lagi kena gangguan PLN, dll. Pasang tarif sewa na yang murah (jangan ngalahin tarif sewa genset - hehehe - ntar ga laku), tapi masih bisa untung.

Refill Air Minum Masak

Ide ini dapat dari ketemu langsung bisnismen ya :p Jadi si dia bawa sepeda motor roda dua, di bagian belakang na, dibikin kerangka bagasi dari besi yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa muat botol kemasan air minum mineral ukuran 1.5 L (pokoknya yg ukuran adiknya botol galon) sekitar 30-40 botol di kanan kiri. Masih ditambah lagi ada tas keranjang yang juga dipenuhi botol kemasan air mineral tadi. Selidik punya selidik ternyata isinya air minum matang (sudah masak). Nah dia kirim ke para subscriber (pelanggan - hehehe) yang jadi langganannya air minum-air minum isi ulang kemasan yang sudah dimasak tadi. Ada pemilik bengkel, tukang parkir, penjual voucher pulsa pinggir jalan, pedagang, dll, dll. Tuh, kreatif kan. Harga di bawah harga air mineral kemasan baru, modal juga ndak ribet. Air bersih sedia yang banyak, dimasak di panci besar (mau pakai kayu boleh, pakai kompor minyak monggo, kompor gas silahkan, ... ya dihitung aja mana yg ekonomis), di-dinginkan, dikemas ke botol yang sudah dicuci bersih, kirim ke pelanggan. Atau jual di terminal angkot, terminal bus, keramaian. Coba bikin promosi yang menarik. Para staf sales/kurir diberi seragam yang bersih dan apik, biar image usaha nampak bagus. Tuh, menarik dan unik ndak? :)
Ya sudah kalau berminat mencoba wirausaha model sederhana dan simpel ini ya silahkan segera dicoba. Semoga bermanfaat, salam! :) Thats just a simple idea!

Friday, May 23, 2008

Bioskop Mini

Terbuka lebar peluang bisnis bioskop mini. Tak hanya di daerah yang bioskopnya masih minim, di kota besar macam Jakarta pun bisnis ini masih menjanjikan. Pasarnya masih cukup besar. Modalnya relatif kecil, dan marginnya tinggi, mencapai 75%.

Sejak zaman bokap dan nyokap pacaran, nonton film sudah menjadi salah satu menu kencan pasangan anak muda. Nonton film di bioskop juga merupakan salah satu aktivitas yang paling asyik untuk menjeda rutinitas. Dan, juga untuk mencari inspirasi baru.

Di era digital ini, jika tak punya waktu ke bioskop, kita memang bisa menonton DVD di rumah. Apalagi sudah ada perangkat audio visual canggih yang bisa menghadirkan home theater di kediaman Anda. Cuma, bagi pecinta nonton, memelototi film di rumah tak seasyik menonton di bioskop. Ada greget yang hilang. Mungkin dari perjuangan berat usel-uselan mengantre tiket, ngecengin orang-orang yang ada di situ, sampai memergoki-atau dipergoki-penonton lain tengah pacaran di dalam theather.

Bagaimana, dong, kalau di kota kita belum ada bioskop, atau kalaupun ada jumlahnya sedikit? Inilah sebuah peluang bisnis baru. Untuk menggantikan bioskop, kini mulai bermunculan yang namanya bioskop mini.

Peluang usaha teater cilik ini tentu saja menjadi amat lebar di daerah-daerah yang belum memiliki bioskop atau yang jumlah bioskopnya sedikit. Salah satu contoh suksesnya adalah Movie Box yang berada di Jogjakarta.

Terletak di kawasan dekat kampus, Movie Box merupakan sepotong ruang memanjang berukuran 6 x 9 meter. Ada lima perangkat audio yang mendukung kedahsyatan suara layaknya di sinema besar. Sebuah proyektor digantungkan di langit-langit dan ditembakkan pada tembok putih berukuran 4 x 6 meter.

Di ruangan itu telah tertata kursi sofa yang disusun bertingkat, persis kayak kursi di bioskop. Sofanya berjumlah 12 set, yang bisa diduduki oleh 12 pasangan alias 24 orang. Asyik, to? Ya, untuk bisa menonton di Movie Box ini, pengunjung biasanya datang berdua, sebab tiketnya dijual untuk dua orang sekaligus. Tarifnya Rp 30.000 untuk non-member dan Rp 15.000 untuk member.

Pada hari biasa, Movie Box buka untuk tiga sesi pemutaran film, yakni pukul 14.30, 17.00, dan 19.30. Pada weekend, jadwal main film ditambah pada pukul 22.00 dan midnight. Soal film, Movie Box tak kalah dari jaringan bioskop besar. Movie mini ini selalu memutar cakram berisi film-film terbaru Hollywood.

Sebagian besar kursi selalu terisi

Kehadiran Movie Box mendapat sambutan hangat kawula muda Jogja. Setiap jam pertunjukan, sebagian besar kursi terisi. Pengunjungnya tak hanya mahasiswa yang merupakan target pasar utama, tapi juga anak-anak SMU-bahkan para ABG. Sering pula sekelompok pengunjung mencarter atau memblocking time di Movie Box. Tarifnya Rp 120.000 untuk satu kali pertunjukan. Tak jarang pula ada perusahaan yang mem-booking Movie Box selama seminggu penuh dan memutar film-film box office yang mereka sponsori. “Kalau dirata-rata, tingkat penjualan tiketnya sekitar 80%,” beber Cahyadi, pemilik dan pengelola Movie Box.

Sukses Movie Box menjaring banyak penonton berkat adanya sistem membership. Untuk menjadi anggota, orang harus membayar joining fee sebesar Rp 40.000. Imbalannya, selain bisa membeli tiket dengan harga miring, si member juga akan mendapat fasilitas belanja diskon di beberapa toko, seperti Ginza, Soda Lounge, kosmetik Avon, Veneta Refill, dan NorthBound Boutique.

Tak mau kalah dari bioskop-bioskop yang umumnya berada di mal atau pusat hiburan, Movie Box juga membuka coffeeshop di sebelah ruang teaternya. Selain dari penjualan tiket yang bisa memberi keuntungan sekitar 75%, kedai kopi ini ikut menyumbang keuntungan yang lumayan ke kantong Cahyadi. Tak heran, perusahaan yang berawal dari usaha penyewaan VCD ini bisa balik modal kurang dari setahun.

Di Jakarta pun peluangnya cukup besar

Bisnis bisokop mini ini tak hanya berpeluang di kota atau daerah yang jumlah bioskopnya minim. Di kota besar seperti Jakarta yang sudah memiliki begitu banyak gedung bioskop-mulai kelas premier hingga kelas pasar rakyat, usaha ini juga lumayan subur. Maklumlah, tetap ada pasar bagi orang-orang yang hendak menonton film di luar rumah, tapi ogah antre, ingin suasana yang lebih privasi, dan tentu saja harga tiket yang lebih murah.

Sebut saja contohnya teater mungil bernama Subtitles yang terletak di lantai dasar Dharmawangsa Square. Bioskop mini yang sekaligus juga merupakan usaha rental DVD ini memiliki ruang nonton berukuran 5 x 3 meter untuk maksimal enam pengunjung. Tarifnya, baik menonton sendiri atau berkelompok, Rp 80.000 untuk satu kali pertunjukan. Itu untuk yang non-member. Member bioskop mini ini cukup membayar Rp 60.000.

Buka mulai pukul 10.00 pagi, Subtitles yang memutar film empat kali pada hari biasa plus midnight pada akhir pekan ini tak pernah sepi pengunjung. Tak hanya hanya anak-anak muda, rombongan ibu-ibu atau keluarga juga kerap bersantai di sini. Untuk weekend, sering kali pelanggan harus booking dulu empat hari sebelumnya.

Menurut Fujianto, Sales and Marketing Subtitle, bioskop kecil ini bermodalkan Rp 150 juta. “Memang belum balik modal. Kami perkirakan setidaknya pada tahun kedua sudah balik modal,” ujarnya.

Usaha bioskop kecil ini juga bisa menjadi kembangan atau pelengkap bisnis lama yang sudah Anda rintis. Ambil contoh langkah yang dilakukan Ke’kun Café yang membuka layanan bioskop kecil bernama Flickers di kafenya yang berlokasi di kawasan Kemang. “Flickers merupakan tambahan fasilitas bagi pengunjung kami, sama seperti bar atau ruang karaoke,” terang Patrick Sinaga, PR & Marketing Manager Ke’Kun Café.

Flickers merupakan suatu ruang teater kecil berukuran 5 x 3 meter. Di situ ada tiga set sofa yang bisa menampung delapan orang pengunjung. Secarik layar dari kain terpampang di dinding, siap menyambut sorotan film dari proyektor. Sound-nya lumayan. “Setiap hari Flickers pasti terisi,” ujar Patrick.

Sebagian penonton adalah pengunjung kafe yang ingin makan dan menonton sembari menunggu kemacetan lalu lintas di sana menyusut. Maklum, di ruangan teater ini, penonton bisa makan dan minum, tapi tak bisa merokok. Namun, sebagian pengunjung lainnya memang sengaja datang untuk menonton film; baik dating sendiri, dengan pasangan, atau bergerombol. Enaknya lagi, di sini pengunjung bisa membawa sendiri film yang hendak di tontonnya.

Untuk bisa menikmati film di Flickers, baik Anda datang sendiri atau dengan orang lain, Anda harus membayar ongkos sebesar Rp 99.000 untuk satu kali pemutaran film.

Cuma, ada catatan penting menyangkut hak cipta (copyright) film. Umumnya, film dalam format DVD hanya boleh diputar untuk konsumen individual. Jangan-jangan jika film itu diputar untuk banyak orang dengan memungut bayaran akan menimbulkan masalah di belakang hari.